Monday, July 1, 2013

Pemerkosaan hak pengguna jalan

Konon para bijak mengatakan "ketika ada hak yg terabaikan maka terjadilah kekacauan..."

Idealnya jalan yang baik memiliki space bagian bagi pejalan kaki, ada bagian bagi pengguna motor dan tentunya juga untuk mobil. Saat ini jalanan kita terjadi begitu banyak kekacauan. Sepeda motor menyelip kiri-kanan-kiri lagi, mobil juga demikian adanya, hampir tidak ada space untuk pejalan dan sedikit sekali tempat penyeberangan.

Teringat cerita lucu dari teman yg baru kembali dari negeri seberang, kabarnya polisi di sana dapat dengan segera mengenali pengemudi adalah orang Indonesia. Katanya jika ada mobil yang pindah jalur kiri-kanan-kiri sempoyongan... Hanya dua kemungkinan: pertama orang mabuk, yg lainnya orang Indonesia yg bawa mobil. Jika siang hari ada mobil yg pindah jalur tak menentu sudah bisa dipastikan yg bawa mobil adalah orang Indonesia. Ha ha...

Idealnya jalan besar adalah teratur, rapi, arusnya lancar. Sama seperti aliran darah di tubuh kita.

Mungkin bisa di buat jalur khusus mobil +/- 2 meter di jalur paling kanan untuk mobil2 besar, kemudian jalur 1 meter untuk motor selanjutnya 1,5 meter untuk mobil, 1 meter untuk motor lagi dan sebagainya sesuai lebar jalan. Tiap jalur di batasi "cat" warna kuning yg menandakan kendaraan aman selama berada di jalur tanpa melintasi garis batas kuning, dan setiap mau melintasi garis kuning "lampu sign" wajib dinyalakan. Dan pada jarak +/- 50 mtr dari perempatan, belokan atau lampu merah, garis batas jalur dengan garis berwarna hijau yg artinya silahkan melintasi jalur dengan hati-hati. Dan khusus setiap perempatan lampu merah tempat pemberhentian mobil dibuat 5 meter di belakanh dari pemberhentian motor.

Hal ini dikarenakan pengguna Jalan di Indonesia adalah mayoritas motor (no 1 di Dunia). Jauh lebih dari itu khusus mobil sudah mendapat perlakuan istimewa untuk bisa masuk TOL yg mana motor tidak diijinkan masuk.

Takyo dan New York, kota terpadat di Dunia berhasil men"bumi"kan penduduknya. Pejalan kaki merupakan komponen utama di jalan. "Jalur-jalur bagi pejalan kaki sangat lapang nyaman dan aman, sedangkan untuk kendaraan pribadi mesti berdesak-desakan. Ditambah angkutan umum yang memadai, semua mengalir dengan baik...

Entah kapan bisa diterapkan yah? Biasanya di kaji dulu lalu dirapatkan beberapa kali, di koordinasikan ke kepolisian rapat lagi... Lalu di umumkan untuk diujicobakan dan ternyata berhasil mengurai kemacetan di beberapa jalan yg biasanya macet, baru diterapkan di seluruh jalan di wilayah Indonesia. Hmmm butuh 1 th kali??

Dengan kebijakan ReAgraria kepadatan juga akan berkurang sedikit, jadi bisa singkron. Namun jika kebijakan ReAgraria tidak bisa dijalankan dengan baik, arus urbanisasi terus bertambah. Sebaik apapun sistemnya, nanti juga akan death-lock.

Yang Semestinya Dilakukan RI 1

Seorang presiden RI yang baik memimpin dengan hati nurani. Menjadikan kasih sebagai pedoman melaksanakan pemerintahan, menjadikan keharmonisan menjadi akar pokok kemajuan bersama. Demikianlah yg selayaknya dapat diusahakan:

1. Mencintai rakyatnya seperti anaknya sendiri. walau tidak bisa 100%, minimal 20% lah. Artinya walau belum mampu memberikan kemakmuran kepada rakyatnya, minimal pastikan rakyat tidak kelaparan, miskin dan sakit tanpa pertolongan.

2. Memiliki orang-orang bijak dan pintar sebagai penasehat. Penguasa tidak boleh hanya suka mendengar kata-kata manis penjilat (yg dengan sendirinya akan banyak). Kata-kata yg tajam, kritikan yg baik tepat sasaran dan memiliki solusi seharusnya diprioritaskan.

3. Merangkul pemimpin-pemimpin dibawahnya. Semestinya dan sudah sepantasnya seorang Presiden yg melantik sendiri "Gubernur-Gubernur" yg terpilih kembali dengan perolehan suara lebih dari 65%. Karena mereka berhasil di mata penduduk di daerah pimpinannya. Terlepas dari masalah perbadaan "partai apa yg mencalonkan dia" yg mungkin berbeda, karena seorang presiden dalam hal ini mewakili seluruh rakyat bukan partainya. Presiden harus dengan tulus berterimakasih dan membina hubungan baik dengan kepala daerah tersebut.
Karena mereka bisa menjadi basis dalam menjaga stabilitas daerah saat terjadi kekacauan. Seperti kasus Yogjakarta saat kerusuhan Mei 1998, bisa tetap kondusif, aman dan damai.

4. Memberi fokus utama untuk masalah dalam negeri. Urusan luar negeri boleh dan bisa dilakukan selama tidak mengabaikan masalah dalam negeri. Saat ini 70 : 30 lah. Karena masalah dalam negeri masih banyak yg harus dibereskan.

5. Memberikan penghargaan kepada orang-orang yg berkontribusi pada: perdamaian, kesejaterahan, alam dan lingkungan, ilmu pengetahuan, energy alternatif dan sebagainya (semacam nobel untuk ukuran Nusantara).

6. Mereduksi siar ajaran-ajaran yg bermuatan kekerasan, kebencian, diskriminasi dan permusuhan. Semua ajaran yg sejati dan tidak melenceng selalu mengkedepankan "cinta kasih" dan ada praktik kode etik / etika yg tidak bertentangan dengan kesusilaan (merangkul ulama-ulama, tokoh-tokoh agama dsb)

7. Secara berkala keliling "Nusantara" memastikan bahwa rakyatnya hidup dengan layak. Memantau perkembangan pembangunan di tiap daerah.

8. Seorang presiden kadang mesti mengambil keputusan berat yg tidak popoler namun memberikan dampak yg baik untuk seluruh rakyatnya secara keseluruhan. Dalam hal ini presiden harus minta maaf kepada rekyatnya. (seperti kasus presiden SBY pada bulan Juni 2013 menaikkan harga BBM, seharusnya Beliau bisa saja menunda kenaikan sampai presiden yg akan datang 2014. Biar presiden terpilih yg menanggung hujat dan protes rakyat yg tidak mengerti kebutuhan penghapusan subsidi). Tindakan yg baik tapi dalam hal ini Pesiden SBY tidak minta maaf kepada rakyatnya.

9. Kepentingan bangsa dan negara adalah diatas kepentingan golongan, partai, keluarga, sahabat. Ini selogan yg gampang dibicarakan susah dikerjakan. Tindakan KKN adalah sangat bertentangan dengan prinsip ini.

Friday, June 28, 2013

Jalan Yg Tidak Pernah Mulus?

Apakah pemerintah tidak mampu membangun jalan yg bisa bertahan lebih dari 5 tahun?

Beberapa bulan yg lalu saya mengunjungi seorang teman. Beliau pernah memegang penjualan satu jenis produk pengeras tanah yg digunakan untuk pembuatan jalan. Produk sejenis yg dipakai oleh pemerintah Cina untuk meratakan dan mengeraskan tanah, sebelum dibuat jalan di atasnya. Juga digunakan untuk membuat jalan di perkebunan kelapa sawit. Prinsip kerjanya adalah membuat tanah menjadi resistan terhadap air.

Tentu saja sebagai marketing yg baik, produk tersebut pernah ditawarkan penggunaannya ke pemerintah. Tapi setelah "studi ke negara asal produk tersebut" dalam pesawat pulang, utusan pemerintahan tersebut bilang "Boss, produk nya baguss banget! Tapi sorry banget Boss... Kami tidak bisa pakai, kami butuh yg tiap tahun bisa ada proyek..."

Jadi jika tanya kenapa semua jalan di Indonesia gak ada yg bebas dari berlubang, becek dan tidak rata?

Tuesday, June 25, 2013

Hukuman yg Membangun

Curi ayam divonis 6 bulan penjara? Maling sandal 3 bulan penjara? Korupsi 1 tahun penjara? Pembunuhan 3 tahun penjara?

Kenapa harus penjara? Ngapain saja di penjara? Habiskan anggaran negara?

Di Cina para nara pidana diberdayakan untuk bekerja, berkarya dan menghasilkan. Negara tidak mau keluarkan biaya cuma-cuma.

Sepertinya hal ini bisa kita adopsi dalam system hukuman di negara kita.

Menghukum dengan keadilan dan cinta kasih:

Untuk pelanggaran ringan bisa dengan mengirimkan terdakwa menjalani hukuman sebagai sukarelawan di panti jompo atau panti asuhan dalam tenggang waktu tertentu. Hal ini secara psikologis sangat membantu terdakwa untuk bisa berubah menjadi baik, yaitu lewat tindakan "memberi manfaat" bagi orang lain. Kekuatan kasih diharapkan bisa mengubah perangai buruk terdakwa.

Untuk pelanggaran lebih berat mesti menjadi sukarelawan rumah sakit atau yayasan kematian dalam tenggang waktu tertentu. Hal ini memiliki efek supaya terdakwa ingat bahwa suatu saat ketika dia sakit dan mati, jika semasa hidup kelakuannya buruk siapa yg akan menangisi kepergiannya? Orang-orang akan bersorak ketika dia mati.

Untuk penjahat yg benar-benar buruk sekali, yg mencelakakan banyak orang. Hukumlah dengan memberikan pekerjaan yg "menguntungkan banyak orang" misalnya kerja membangun jalan. Pemerintah harus secara ketat mengawasi pembangunan jalan supaya bisa tahan puluhan tahun (karena sebenarnya memang bisa, selama ini jalan dibuat untuk keperluan "bisa ada proyek" perbaikan setiap tahun. Supaya ada anggaran).

Pemiskinan bagi koruptor juga adalah solusi yg baik, tapi juga harus diberi jalan untuk hidup dan memperbaiki diri. Dikirim untuk proyek "perkebunan pemerintah" sebagai unit satuan kerja paling bawah mungkin salah satu solusi yg tepat.

Monday, June 24, 2013

Demonstrasi Sebuah Seni

Memperihatinkan! Demikian komentar kita melihat demo-demo di negeri kita ini.

Beberapa saat lalu ada sekelompok masa mendemo kebijakan KJS (kartu jakarta sehat). Namun ketika diwawancarai di salah satu tv swasta, pemimpin demo nampak bingung dan tidak tau membedakan program KJS dengan program-program pemerintah yg sebelum-sebelumnya. Lebih jauh akhirnya setelah dikeritik seorang penelpon "jika Bapak merasa KJS gak berguna bagi Bpak, yah gak usah daftar, gitu aja koq repot!", pemimpin demo itu akhirnya menyatakan "pada dasarnya saya bukan tidak setuju, bla... bla... bla... " dan sama sekali tidak punya solusi yg lebih baik. Jadi apa bedanya dengan orang (maaf) kentut?

Demo berikutnya sama saja, "maha"-siswa kita nampaknya lebih senang tampil di layar kaca, lebih suka memakai kekerasan, lebih terampil memakai hujatan dan kata-kata kasar. Hal yg sangat bertentangan dengan sifat ke"ilmu"an, sangat jauh dari kata cendekia. Bisa saya pastikan mahasiswa yg turun ke jalan demo dengan cara beringas IPK (indeka prestasi kumulatif)-nya tidak sampai 3 (dalam sekala 4). Apalagi isu yg di-demo adalah sangat jauh dari mata kuliah mereka. Dengan kata lain "mereka tidak tau apa yg mereka kerjakan".

Seharusnya yg boleh berdemostrasi adalah mahasiswa-mahasiswa yg memang memiliki kompetensi untuk berdemo. Contohnya untuk demo menolak kenaikan BBM, seharusnya boleh dan layak dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa fakultas ekonomi diatas semester 4 dengan IPK lebih dari 3. Jika perlu sudah mengantongi ijin dari Universitasnya. Tentunya mereka harus memiliki solusi alternatif bagi masalah beban ekonomi yg harus ditanggung jika BBM tidak dinaikkan dan subsidi tetap dilakukan.

Demikian halnya demo juga mesti tepat sasaran, tidak merusak dan tidak berbuat yg tidak perlu. Bukan dengan cara menyandera mobil plat merah atau mobil tangki Pertamina.

Begitu pula pemerintah harus buka pintu untuk mendengarkan dan mengkomunikasikan kebijakannya.

Kesimpulan bahwa demo yg baik bercita rasa tinggi dan berseni. Memenuhi baik dalam 5 unsur:
- siapa yg berdemo
- untuk masalah apa
- bagaimana caranya
- apa solusi alternatif yg ditawarkan
- kepentingan untuk siapa

Sunday, June 23, 2013

RENA (Republik - Nasionalis)

Apakah demokrasi merupakan sistem pemerintahan terbaik? Aku sangat meragukan itu.

Saat ini (th 2013) ada dua partai mengusung prinsip "demokrasi". Dan nampaknya akan menjadi bumerang bagi merka sendiri. Karena dalam perinsip demokrasi setiap orang berhak memiliki pandangan, pemikiran dan konsepnya sendiri. Tidak dipungkiri bahwa hal tersebut memang sangat ideal sekali. Namun kenyataan dilapangan tidaklah demikian mulus. Masalahnya adalah, pengetahuan, kemampuan, perspektif dan kepentingan orang-orang didalam nya cenderung terlalu beragam. Ketika semua suara memiliki hak yg sama, sementara tingkat "ketercerahan" mereka berbeda. Maka seorang patriot yg secara murni berpikir dan bertindak demi kepentingan bangsa dan negara, akan sama suaranya dengan seorang korup, bodoh, rakus, egois dan yg "suaranya dibayar". Demikian demokrasi yg kelihatannya adil namun sebenarnya menempatkan ketidak-adilan bagi kepentingan rakyat. Kita belajar sejak di bangku sekolah bahwa kerja keras dan kerja malas-malas mendapat upah dan penghargaan yg sama adalah ketidak-adilan, lebih jauh mematahkan semangat kerja keras itu sendiri.

Dalam film 300 tercatat jelas bagaimana prajurit sparta yg gagah mesti menerobos maut karna keputusan sang pemimpin bukan dominan dan setiap suara memiliki hak untuk didengar yg celakanya "dibayar" oleh pihak musuh. Benua Eropa dimana sistem hak suara yg sama dalam pemerintahan terbukti sudah bermasalah sejak dulu, kini diagungkan sebagai sistem pemerintahan terbaik.

Saya secara pribadi setuju bahwa demokrasi adalah yg terbaik, namun dengan catatan (dalam tinta tebal) semua yg bersuara "memiliki aspirasi murni yg sama untuk kepentingan umum", "memiliki kecerahan jiwa dan kebijaksanaan intuitif" dan memiliki jiwa kasih yg dapat merangkul semua.

Re-publik dari bahasa latin "res publica" yg berarti "masalah awam". Tapi disini kita tidak mengambil batasan terjemahan dari kata dasarnya itu. Seperti halnya ekonomi yg berarti "aturan rumah-tangga", maknanya sudah lebih jauh dan mendalam dari kata dasarnya itu.

Masalah awam atau masalah rakyat (orang/masyarakat awam). Pada dasarnya hanya sangat sederhana: sandang, pangan, papan. Hal ini jelas adalah kebutuhan yg sangat mendasar yg minimal harus dipenuhi.

Dalam UUD negara kita jelas tertulis bahwa fakir miskin dan anak terlantar merupakan tanggung jawab negara. Ini mengandung makna bahwa negara harus mengusahakan kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan) semua warga negaranya bisa dipenuhi.

Re-Publik bagiku lebih berarti mengembalikan kepada masyarakat awam apa yg menjadi hak mereka. Melihat dalam wawasan perspektif yg luas, yg menjangkau seluruh rakyat dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia. Beraneka ragam suku, ras, agama, tradisi, kebiasaan, keyakinan, bahasa dan perbeda-perbedaan lainnya, semuanya adalah satu keluarga besar Indonesia/Nusantara. Memiliki kebutuhan dasar yg sama (walau dalam bentuk yg berbeda), memiliki hasrat untuk maju dan menjadi lebih baik.

"Bhineka Tunggal Ika" merupakan filsafat luhur yg bukan saja cocok untuk Indonesia, tapi juga dunia. Sadar atau tidak, seluruh peradaban manusia di atas muka bumi ini mengarah pada filsafat yg mungkin bagi sebagian kita dianggap "kuno" dan "antik" itu. Coba dicermati sejarah umat manusia. Banyak sekali perperangan dan pertikaian yg mulai dari perbedaan, yg kemudian berakhir setelah adanya pengakuan atas kesetaraan harkat dan martabat sebagai manusia.

Idealnya negaralah yg harus memulainya. Ketika negara memperlakukan rakyatnya (semua tanpa "pembedaan") dengan penuh kasih dan mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, memberikan mereka pendidikan yg layak. Secara hukum aksi-reaksi. Mereka, rakyat dari berbagai latar yg berbeda itu akan mencintai negaranya, mereka akan bangga dengan negaranya. Mereka akan memberikan yg terbaik untuk negaranya, produk-produk yg mereka kerjakan sepenuh hati penuh pengabdian kepada negaranya akan berkwalitas "sepenuh hati". Mereka akan lebih mencintai produk negaranya. Tidak akan ada lagi kasus WNI perbatasan pindah kewarganegaraan. Tidak diragukan sedikitpun bahwa nasionalis-nasionalis sejati akan dihasilkan dalam sistem seperti ini. Nasionalis dari berbagai latar berbeda di bawah satu naungan bendera yg sama Merah Putih.

RENA
Repubik Nasionalis

Saturday, June 22, 2013

Kebijakan Re-Agraria

Nusantara
Pada dasarnya adalah bumi agraris. Subur hijau asri. "Tongkat bambu dan kayu jadi tanaman"
Tragedi terbesar adalah ketika kita sebagai bangsa agraris namun kehilangan semangat dan ciri khas agraris. Mengimpor hasil agraris dari negara lain, bahkan pernah membayar dengan barter pesawat sukoi.

Pemerintah bisa mempelopori untuk mewujudkan ketahanan pangan dan stabilitas masyarakat. Melalui sistem kebijakan yg terintegrasi. Misalnya
Proyek terintegrasi yg efektif dan efisien:

1. "Perkebunan/Pertanian Pemerintah"
Menanam sayur dan buah yg paling dibutuhkan oleh masyarakat. Wortel, brokoli, sawi,  tomat, singkong, pisang, semangka, ubi dsb...
Menggunakan metode organic farming, tanpa pestisida dan pupuk kimia. Memiliki nilai (value) yg tinggi serta berguna untuk meningkatkan ststus gizi dan kesehatan.

2. "Proyek Nir-limbah"
Membuat pemisahan jelas sampah organik dan non organik. Pengolahan sampah organik menjadi pupuk organik dan sampah non-organik sebagai bahan bakar pembangkit listrik (sudah ada di cina).

3. "Transmigrasi"
Pusing dengan arus urbanisasi? Program transmigrasi bisa menyelesaikan banyak masalah tanpa masalah. Karena para transmigran sudah ada proyek "perkebunan pemerintah" yg harus dikerjakan yg tersebar di berbagai lokasi strategis. Demikian dapat mewujudkan ketahanan pangan di masing-masing daerah.

4. "Pasar Pemerintah"
Harga BBM dunia naik? mau naikkan harga BBM dalam negeri tanpa kenaikan harga bahan kebutuhan pokok? Adakan Pasar Pemerintah harga terkendali karena supply barang dari "perkebunan pemerintah" yg tersebar.

5. "Kesejaterahan Masyarakat"
Semua tenaga kerja proyek pemerintah digaji oleh anggaran khusus proyek pemerintah. Jadi resiko gagal panen dan hidup sengsara kecil sekali kemungkinannya. Pemerintah menyedikan rumah tinggal, "sekolah proyek pemerintah" gratis, jaminan kesehatan dan gaji tetap (tentunya menyesuaikan dengan jenjang kerja).

6. "Penanggulangan Kebakaran Hutan = Lahan gratis"
Hampir setiap tahun Indonesia ditegur oleh pemerintah Singapura dan atau Malaysia karena ekspor asap hasil kebakaran hutan. Yg dilakukan sengaja atau pun tidak. Pemerintah mesti mengumumkan bahwa lahan yg terbakar dan membawa dampak buruk bagi masyarakat akan di sita menjadi milik negara dan di gunakan sebesar-besarnya untuk kesejaterahan masyarakat. Lahan ini bisa digunakan untuk proyek "perkebunan / pertanian pemerintah".

7. "Sekolah Proyek Pemerintah"
Memiliki kurikulum tersendiri yg mengajarkan pada pelajaran dan ilmu yg terpakai. Budi pekerti dan cinta tanah air. Membentuk SDM untuk memajukan bidang pertanian dan agraris.

8. "Go Green Project"
Dengan mengupayakan re-agraria bisa membawa Indonesia menjadi pioner sistem Go-Green Goverment.

9. "Penyelesaian Masalah Sosial"
Dengan adanya proyek ini. Relokasi untuk penduduk yg hidup tidak layak di pinggir jalan, pinggir rel kereta, bawah jembatan, dan tepi sungai. Penataan kota bisa lebih baik.

Friday, June 21, 2013

Memperbaiki Kwalitas Kesehatan Masyarakat

Demi memperbaiki kwalitas kesehatan masyarakat bisa dilakukan banyak hal:

- mengadopsi pola makan vegetarian yg sudah terbukti lebih sehat, aman, ekonomis, rendah emisi karbon. Contoh nyata yg telah beralih ke pola konsumsi vegetarian: Albert Einstain, Pythagoras, Mahatma Ghandi, Obama, Ban Ki Moon dan masih sangat banyak sekali...
Bahkan pemerintah Cina lewat PM saat itu (Wen Jia Bao) pada th 2010 menetapkan untuk bervegetarian setiap hari senin.

- re-edukasi masyarakat tentang pola konsumsi sehat (mulai dari yg ekonomis dan bergizi - sampai kelas eksklusif), lewat tayangan tv di ruang tunggu setiap Rumah Sakit, halte bus way dan fasilitas umum lainnya yg ngantrinya panjang. Dari pada putar berita yg isinya hanya kejahatan, pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, demo... (90% berita yg ada di layar kaca adalah mengenai hal-hal negatif). Pola makan 4 sehat 5 sempurna terbukti salah dan bertanggung jawab atas kondisi kesehatan masyarakat generasi ini dimana di departemen kesehatan telah di ralat th 1992 yg mana sampai saat ini buku pelajaran SD pun masih ada yg mencantumkan pola makan 4 sehat 5 sempurna.

- memantau peredaran makanan dan obat-obatan, menindak tegas bagi yg menjual makanan yg mengandung zat berbahaya. Operasi pasar dan sidak rutin tapi acak ke berbagai pasar, jajanan kaki lima. Memberikan stiker "Aman layak konsumsi oleh BPOM" (secara geratis dan berlaku setahun) kepada pedagang kaki lima yg lulus tes.

Koran / Majalah Pemerintah RI - Sebuah Solusi Komunikasi

Pemerintah RI mesti memiliki koran/majalah pemerintah. Dimana Pemerintah bisa mensosialisasikan kebijakannya kepada seluruh rakyatnya. Demikian fungsi "minimal" dari koran/majalah pemerintah:
- media edukasi dan sosialisasi program-program pemerintah
- laporan pertanggung jawaban kepada rakyat oleh wakil-wakilnya
- laporan kinerja pemerintah, mulai dari presiden, menteri, DPR, MPR dan pemda (pusat dan masing-masing daerah)
- media komunikasi & aspirasi pemerintah - rakyat
- sumber informasi-informasi positif baru untuk membangun citra positif pemerintah dan memberikan harapan baru bagi rakyat, bahwa negara ini benar akan menjadi jauh lebih baik. (biarkan berita negatif diurus media lain)
- sumber catatan sejarah pemerintahan yg dapat dijadikan pedoman bagi pemerintahan berikutnya untuk mengambil keputusan.
- laporan proyek-proyek, kegiatan dan kebijakan-kebijakan pemerintah supaya bisa di evaluasi, diperbaiki atau ditingkatkan.

Selama ini rakyat tidak tahu apa yg telah pemerintah lakukan utuk rakyatnya. Tidak mengenal sama sekali siapa wakil-wakilnya, apa saja kerja mereka. Kecuali mereka yg terpelajar dan mengikuti perkembangan. Bagi mereka siapa saja yg menjabat tidak ada hubungannya dengan mereka.

Dengan informasi yg jelas dari pemerintah, maka pengurusan dokumen seperti pasport dsb bisa meminimalkan calo dan pungutan liar.

Untuk pembiayaan supaya meringankan beban anggaran bisa digunakan dari iklan. Sehingga harga koran/majalah pemerintah benar-benar terjangkau.

SBY - 6th

Ketika democarzy merajarela
Setiap orang mau bicara
Setiap pendapat menuntut tanggap
Sungguh mustahil tampil tanpa cela
Ketika baik dibilang cari muka
Ketika salah menjadi cela
Ketika diam dibilang tak peduli
Ketika bicara dibilang sok ikut campur
Serbah salah SBY

GOD bless
Pertanggung jawabkan saja pada
Tuhan, hati nurami, negara dan "rakyat" (secara keseluruhan, bukan sebagian)

Megawati - 5th

Ketua Partai pemenang pemilu,
Harus sabar menjadi orang kedua
Lantaran politik busuk menghadang
Koalisi kotor curang menghalang...
Namun suratan tetap suratan,
Emansipasi mesti ada
Periode tenang negara punya tabungan

GusDur - 4th

Memimpin dengan hati
Bijak mengayomi
Figur nyata pelaksana:
Bineka Tunggal Ika,

Walau singkat memimpin,
Nama harum bertahan
Sepanjang sejarah Indonesia

PROFIL PRESIDEN INDONESIA PERTAMA SAMPAI SEKARANG


Presiden Pertama, Ir. Soekarno (1945-1966)

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970.

Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak.

Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika.

Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam.

Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.

Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929.

Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila.

Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden.

Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”

Presiden Kedua, Soeharto (1966-1998)

Soeharto adalah Presiden kedua Republik
Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921.

Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.

Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.

Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran.

Perkimpoian Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat).

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

Presiden RI Kedua HM Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Jenderal Besar yang oleh MPR dianugerahi penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari (sejak 4 sampai 27 Januari 2008) di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta.

Berita wafatnya Pak Harto pertama kali diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Kemudian secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ.

Kemudian sekira pukul 14.40, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta. Ambulan yang mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal. Sejumlah wartawan merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu bergerak menuju Jalan Cendana, mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak.

Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Isak tangis warga pecah begitu rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekira pukul 14.55, Minggu (27/1).

Sementara itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1). Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI Kedua Haji Muhammad Soeharto.

Presiden Ketiga, Habibie (1998-1999)

Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936.

Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda ini, harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung. Tak lama setelah bapaknya meninggal, Habibie pindah ke Bandung untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.

Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di Bandung (Sekarang ITB). Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gekar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965. Habibie menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.

Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, Habibie 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto. Soeharto menyerahkan jabatan presiden itu kepada Habibie berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Beliau pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke Jerman.

Sebagian Karya beliau dalam menghitung dan mendesain beberapa proyek pembuatan pesawat terbang :
* VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
* Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
* Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
* Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
* CN – 235 * N-250
* dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:
• Helikopter BO-105.
• Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
• Beberapa proyek rudal dan satelit.

Sebagian Tanda Jasa/Kehormatannya :
* 1976 – 1998 Direktur Utama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara/ IPTN.
* 1978 – 1998 Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
* Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi /BPPT
* 1978 – 1998 Direktur Utama PT. PAL Indonesia (Persero).
* 1978 – 1998 Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam/ Opdip Batam.
* 1980 – 1998 Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (Keppres No. 40, 1980)
* 1983 – 1998 Direktur Utama, PT Pindad (Persero).
* 1988 – 1998 Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis.
* 1989 – 1998 Ketua Badan Pengelola Industri Strategis/ BPIS.
* 1990 – 1998 Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia/lCMI.
* 1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
* 10 Maret – 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
* 21 Mei 1998 – Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia

Presiden Keempat, Abdurrahman Wahid (1999-2001)

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940.

Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.

Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.

Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya.

Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik.

Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkimpoiannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir.

Pengalaman Pendidikan Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur’an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur’an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris.

Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’shum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara.

Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo.

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar.

Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki. Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut.

Perjalanan Karir Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis.

Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak. Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap ‘menyimpang’-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid

Presiden Kelima, Megawati (2001-2004)

Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947.

Sebelum diangkat sebagai presiden, beliau adalah Wakil Presiden RI yang ke-8 dibawah pemerintahan Abdurrahman Wahid. Megawati adalah putri sulung dari Presiden RI pertama yang juga proklamator, Soekarno dan Fatmawati. Megawati, pada awalnya menikah dengan pilot Letnan Satu Penerbang TNI AU, Surendro dan dikaruniai dua anak lelaki bernama Mohammad Prananda dan Mohammad Rizki Pratama.

Pada suatu tugas militer, tahun 1970, di kawasan Indonesia Timur, pilot Surendro bersama pesawat militernya hilang dalam tugas. Derita tiada tara, sementara anaknya masih kecil dan bayi. Namun, derita itu tidak berkepanjangan, tiga tahun kemudian Mega menikah dengan pria bernama Taufik Kiemas, asal Ogan Komiring Ulu, Palembang. Kehidupan keluarganya bertambah bahagia, dengan dikaruniai seorang putri Puan Maharani. Kehidupan masa kecil Megawati dilewatkan di Istana Negara.

Sejak masa kanak-kanak, Megawati sudah lincah dan suka main bola bersama saudaranya Guntur. Sebagai anak gadis, Megawati mempunyai hobi menari dan sering ditunjukkan di hadapan tamu-tamu negara yang berkunjung ke Istana.

Wanita bernama lengkap Dyah Permata Megawati Soekarnoputri ini memulai pendidikannya, dari SD hingga SMA di Perguruan Cikini, Jakarta. Sementara, ia pernah belajar di dua Universitas, yaitu Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung (1965-1967) dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972).

Kendati lahir dari keluarga politisi jempolan, Mbak Mega — panggilan akrab para pendukungnya — tidak terbilang piawai dalam dunia politik. Bahkan, Megawati sempat dipandang sebelah mata oleh teman dan lawan politiknya. Beliau bahkan dianggap sebagai pendatang baru dalam kancah politik, yakni baru pada tahun 1987.

Saat itu Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menempatkannya sebagai salah seorang calon legislatif dari daerah pemilihan Jawa Tengah, untuk mendongkrak suara. Masuknya Megawati ke kancah politik, berarti beliau telah mengingkari kesepakatan keluarganya untuk tidak terjun ke dunia politik. Trauma politik keluarga itu ditabraknya. Megawati tampil menjadi primadona dalam kampanye PDI, walau tergolong tidak banyak bicara. Ternyata memang berhasil. Suara untuk PDI naik. Dan beliau pun terpilih menjadi anggota DPR/MPR. Pada tahun itu pula Megawati terpilih sebagai Ketua DPC PDI Jakarta Pusat.

Tetapi, kehadiran Mega di gedung DPR/MPR sepertinya tidak terasa. Tampaknya, Megawati tahu bahwa beliau masih di bawah tekanan. Selain memang sifatnya pendiam, belaiu pun memilih untuk tidak menonjol mengingat kondisi politik saat itu. Maka belaiu memilih lebih banyak melakukan lobi-lobi politik di luar gedung wakil rakyat tersebut. Lobi politiknya, yang silent operation, itu secara langsung atau tidak langsung, telah memunculkan terbitnya bintang Mega dalam dunia politik. Pada tahun 1993 dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI. Hal ini sangat mengagetkan pemerintah pada saat itu.

Proses naiknya Mega ini merupakan cerita menarik pula. Ketika itu, Konggres PDI di Medan berakhir tanpa menghasilkan keputusan apa-apa. Pemerintah mendukung Budi Hardjono menggantikan Soerjadi. Lantas, dilanjutkan dengan menyelenggarakan Kongres Luar Biasa di Surabaya. Pada kongres ini, nama Mega muncul dan secara telak mengungguli Budi Hardjono, kandidat yang didukung oleh pemerintah itu. Mega terpilih sebagai Ketua Umum PDI. Kemudian status Mega sebagai Ketua Umum PDI dikuatkan lagi oleh Musyawarah Nasional PDI di Jakarta.

Namun pemerintah menolak dan menganggapnya tidak sah. Karena itu, dalam perjalanan berikutnya, pemerintah mendukung kekuatan mendongkel Mega sebagai Ketua Umum PDI. Fatimah Ahmad cs, atas dukungan pemerintah, menyelenggarakan Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, untuk menaikkan kembali Soerjadi. Tetapi Mega tidak mudah ditaklukkan. Karena Mega dengan tegas menyatakan tidak mengakui Kongres Medan. Mega teguh menyatakan dirinya sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, sebagai simbol keberadaan DPP yang sah, dikuasai oleh pihak Mega. Para pendukung Mega tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor itu.

Soerjadi yang didukung pemerintah pun memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI itu. Ancaman itu kemudian menjadi kenyataan. Pagi, tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, dia makin memantap langkah mengibarkan perlawanan. Tekanan politik yang amat telanjang terhadap Mega itu, menundang empati dan simpati dari masyarakat luas.

Mega terus berjuang. PDI pun menjadi dua. Yakni, PDI pimpinan Megawati dan PDI pimpinan Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan mengakui Mega. Tetapi, pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Akibatnya, PDI pimpinan Mega tidak bisa ikut Pemilu 1997. Setelah rezim Orde Baru tumbang, PDI Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan. Partai politik berlambang banteng gemuk dan bermulut putih itu berhasil memenangkan Pemilu 1999 dengan meraih lebih tiga puluh persen suara. Kemenangan PDIP itu menempatkan Mega pada posisi paling patut menjadi presiden dibanding kader partai lainnya. Tetapi ternyata pada SU-MPR 1999, Mega kalah.

Tetapi, posisi kedua tersebut rupanya sebuah tahapan untuk kemudian pada waktunya memantapkan Mega pada posisi sebagai orang nomor satu di negeri ini. Sebab kurang dari dua tahun, tepatnya tanggal 23 Juli 2001 anggota MPR secara aklamasi menempatkan Megawati duduk sebagai Presiden RI ke-5 menggantikan KH Abdurrahman Wahid. Megawati menjadi presiden hingga 20 Oktober 2003. Setelah habis masa jabatannya, Megawati kembali mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan presiden langsung tahun 2004. Namun, beliau gagal untuk kembali menjadi presiden setelah kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono yang akhirnya menjadi Presiden RI ke-6.

Presiden Keenam, Soesilo Bambang Yudhoyono (2004-2014)

Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden RI ke-6. Berbeda dengan presiden sebelumnya, beliau merupakan presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004.

Lulusan terbaik AKABRI (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949. Istrinya bernama Kristiani Herawati, merupakan putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo.

Pensiunan jenderal berbintang empat ini adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Letnan Satu. Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang pendiri Ponpes Tremas.

Beliau dikaruniai dua orang putra yakni Agus Harimurti Yudhoyono (mengikuti dan menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun 2000 dengan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang yang kemudian menekuni ilmu ekonomi).

Pendidikan SR adalah pijakan masa depan paling menentukan dalam diri SBY. Ketika duduk di bangku kelas lima, beliau untuk pertamakali kenal dan akrab dengan nama Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang, Jawa Tengah. Di kemudian hari AMN berubah nama menjadi Akabri. SBY masuk SMP Negeri Pacitan, terletak di selatan alun-alun. Ini adalah sekolah idola bagi anak-anak Kota Pacitan. Mewarisi sikap ayahnya yang berdisiplin keras, SBY berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA akhir tahun 1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, SBY tidak langsung masuk Akabri. Maka SBY pun sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November Surabaya (ITS).

Namun kemudian, SBY justru memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Sewaktu belajar di PGSLP Malang itu, beliau mempersiapkan diri untuk masuk Akabri. Tahun 1970, akhirnya masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung. SBY satu angkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa pendidikan, SBY yang mendapat julukan Jerapah, sangat menonjol. Terbukti, belaiu meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya.

Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster University AS. Perjalanan karier militernya, dimulai dengan memangku jabatan sebagai Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (Komandan Peleton III di Kompi Senapan A, Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Kostrad) tahun 1974-1976, membawahi langsung sekitar 30 prajurit.

Batalyon Linud 330 merupakan salah satu dari tiga batalyon di Brigade Infantri Lintas Udara 17 Kujang I/Kostrad, yang memiliki nama harum dalam berbagai operasi militer. Ketiga batalyon itu ialah Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Batalyon Infantri Lintas Udara 328/Dirgahayu, dan Batalyon Infantri Lintas Udara 305/Tengkorak. Kefasihan berbahasa Inggris, membuatnya terpilih mengikuti pendidikan lintas udara (airborne) dan pendidikan pasukan komando (ranger) di Pusat Pendidikan Angkatan Darat Amerika Serikat, Ford Benning, Georgia, 1975. Kemudian sekembali ke tanah air, SBY memangku jabatan Komandan Peleton II Kompi A Batalyon Linud 305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad) tahun 1976-1977. Beliau pun memimpin Pleton ini bertempur di Timor Timur.

Sepulang dari Timor Timur, SBY menjadi Komandan Peleton Mortir 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977). Setelah itu, beliau ditempatkan sebagai Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), dan Paban Muda Sops SUAD (1981-1982). Ketika bertugas di Mabes TNI-AD, itu SBY kembali mendapat kesempatan sekolah ke Amerika Serikat. Dari tahun 1982 hingga 1983, beliau mengikuti Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983 sekaligus praktek kerja-On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983. Kemudian mengikuti Jungle Warfare School, Panama, 1983 dan Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984, serta Kursus Komando Batalyon, 1985. Pada saat bersamaan SBY menjabat Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)

Lalu beliau dipercaya menjabat Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988) dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988), sebelum mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI-AD (Seskoad) di Bandung dan keluar sebagai lulusan terbaik Seskoad 1989. SBY pun sempat menjadi Dosen Seskoad (1989-1992), dan ditempatkan di Dinas Penerangan TNI-AD (Dispenad) dengan tugas antara lain membuat naskah pidato KSAD Jenderal Edi Sudradjat. Lalu ketika Edi Sudradjat menjabat Panglima ABRI, beliau ditarik ke Mabes ABRI untuk menjadi Koordinator Staf Pribadi (Korspri) Pangab Jenderal Edi Sudradjat (1993).

Lalu, beliau kembali bertugas di satuan tempur, diangkat menjadi Komandan Brigade Infantri Lintas Udara (Dan Brigif Linud) 17 Kujang I/Kostrad (1993-1994) bersama dengan Letkol Riyamizard Ryacudu. Kemudian menjabat Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995). Tak lama kemudian, SBY dipercaya bertugas ke Bosnia Herzegovina untuk menjadi perwira PBB (1995). Beliau menjabat sebagai Kepala Pengamat Militer PBB (Chief Military Observer United Nation Protection Force) yang bertugas mengawasi genjatan senjata di bekas negara Yugoslavia berdasarkan kesepakatan Dayton, AS antara Serbia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina. Setelah kembali dari Bosnia, beliau diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Jaya (1996). Kemudian menjabat Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda dan Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998) sebelum menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI (1998-1999).

Sementara, langkah karir politiknya dimulai tanggal 27 Januari 2000, saat memutuskan untuk pensiun lebih dini dari militer ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Tak lama kemudian, SBY pun terpaksa meninggalkan posisinya sebagai Mentamben karena Gus Dur memintanya menjabat Menkopolsoskam. Pada tanggal 10 Agustus 2001, Presiden Megawati mempercayai dan melantiknya menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong-Royong. Tetapi pada 11 Maret 2004, beliau memilih mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Langkah pengunduran diri ini membuatnya lebih leluasa menjalankan hak politik yang akan mengantarkannya ke kursi puncak kepemimpinan nasional. Dan akhirnya, pada pemilu Presiden langsung putaran kedua 20 September 2004, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih kepercayaan mayoritas rakyat Indonesia dengan perolehan suara di attas 60 persen. Dan pada tanggal 20 Oktober 2004 beliau dilantik menjadi Presiden RI ke-6. Berikut ini data lengkap tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Nama : Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir : Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Agama : Islam
Jabatan : Presiden Republik Indonesia ke-6
Istri : Kristiani Herawati, putri ketiga (Alm) Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Anak : Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono
Ayah : Letnan Satu (Peltu) R. Soekotji
Ibu : Sitti Habibah

Pendidikan :
* Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
* American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
* Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
* Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
* On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
* Jungle Warfare School, Panama, 1983
* Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984
* Kursus Komando Batalyon, 1985
* Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
* Command and General Staff College, Fort Leavenwort, Kansas, AS
* Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS

Karier :
* Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
* Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
* Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
* Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
* Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
* Paban Muda Sops SUAD (1981-1982) * Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
* Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
* Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
* Dosen Seskoad (1989-1992)
* Korspri Pangab (1993)
* Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
* Asops Kodam Jaya (1994-1995)
* Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
* Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
* Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
* Pangdam II/Sriwijaya (1996-) sekaligus Ketua Bakorstanasda
* Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
* Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
* Mentamben (sejak 26 Oktober 1999)
* Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid)
* Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri) mengundurkan diri 11 Maret 2004 Alamat : Jl. Alternatif Cibubur Puri Cikeas Indah No. 2 Desa Nagrag Kec. Gunung Putri Bogor 16967

Sumber : http://berandakawasan.wordpress.com/2009/12/12/biografi-presiden-indonesia/

BJ Habibie - 3rd

Pemerintahan transisi
Ilmuan sejati
Tanpa kuasa di puncak pimpinan
Kini lebih berarti cerita romantika...

Soeharto - 2nd

Membangun bangsa...
Memajukan perekonomian,
Memakmurkan rakyat,
Stabil, Aman dan mengayomi...
32 tahun
Indonesia
Dari negara terbelakang
Menjadi negara berkembang
Hampir menjadi negara maju

Thursday, June 20, 2013

Ir.Soekarno the 1st

Dia hidup demi bangsanya,
Hati bersama rakyatnya,
Wibawa bagi negaranya,
Berdiri sejajar bahkan dengan yg AdiDaya,
Indonesia dikenal semua bangsa,
Merdeka...

Gugur dalam pengasingan
Kembali dalam pelukan Bunda Pertiwi
Selamanya hidup dalam hati rakyatnya.